Pengalaman Kerja Sebagai Satuan Pengaman

Kemarin waktu beres-beres dokumen di laci ada selembar sertifikat yang sudah berdebu. Lalu saya bersihkan dan seketika itu teringat akan pengalaman kerja ketika bekerja sebagai satpam atau satuan pengaman. Sertifikat tersebut adalah hasil dari pendidikan satuan pengamanan yang cukup melelahkan dan penuh perjuangan. Awal cerita saya mengenal dunia satuan pengaman adalah ketika mendengarkan radio di salah satu stasiun di Garut.

Karena saya sedang mencari kerja dan sudah lama menganggur saya coba deh datang ke kantornya. Barangkali bagus dan mungkin karier saya disitu. Ketika di kantornya ada seorang bapak bapak badannya tegap. Memberitahukan segala macam persyaratan termasuk biaya admin untuk pelatihan.

Waktu itu sekitar 2018 biaya pelatihan untuk menjadi seorang satuan pengaman adalah Rp 3.500.000. Biaya tersebut adalah termasuk sertifikat dan lain-lain.

Bagi saya yang segitu gede banget dan uang yang saya punya tidaklah cukup. Namun dari pihak yayasan saya ditawari bisa bayar setengahnya dulu sisanya di potong gaji. Saya terima tawaran tersebut setelah membicarakannya dengan orang tua saya dulu.

Tepatnya saya lupa,akhirnya saya pun berangkat dari Garut bersama rekan-rekan seangkatan untuk pelatihan di Brimob kelapa dua depok dengan mobil yayasan.

Pelatihan pun dimulai dengan dengan harap-harap cemas bisa bertahan apa tidak selama dua minggu tersebut. Tapi ya mau gimana lagi saya sudah terlanjur bayar dan tanda tangan biaya pelatihan tersebut. Jika megundurkan diri bisa hangus dan ijazah di tahan apalagi.

Setelah kurang lebih dua minggu sayapun lulus pelatihan sekuriti. Dan langsung balik ke bandung karenna langsung penempatan ke berbagai tempat dengan lowongan tersedia.

Kebetulan saya penempatan nya di salah satu tempat kuliah terkenal di Bandung. Hari demi hari saya lalui bekerja sebagai satuan pengaman,namun jujur saja saya merasa rugi, saya bekerja tapi tidak dapat apa-apa. Ahk! selama saya bekerja 8 bulan tidak dapat apa-apa selain pengalaman saja. Bayangkan gaji hanya 800 ribu hidup di kota Bandung untuk sebulan apalagi di potong dengan hutang biaya pelatihan Rp 200 ribu, jadi total gaji bersih saya adalah Hanya Rp 600 ribu dalam sebulan. Memang sih kontrakan di kasih oleh yayasan,tapi ya ampun jauh dari kata layak,di pinggir sungai dan berdesak desakan seperti pindang

Saya merasa di kacangin dan dibodohin,mau keluar ijasah di tahan karena masih punya utang pelatihan terus bekerja saya tidak dapat apa-apa. Tapi karena sudah tidak sabar, saya ingat waktu itu saya pulang shift malam rapihkan pakaian dan langsung pulang.

Saya pun pulang tidak dan keluar dari perusahaan tidak minta izin,kecuali ke rekan kerja saja. Saya bilang ke teman saya mudik dulu padahal itu adalah hari terkahir kerja di sana.

Rasa kesal ini masih ada sampai sekarang sama perusahaan penyedia jasa tersebut. Kok, ada ya yang mau memperkerjakan karyawan tapi tidak melihat yang dibawah bisa sejahtera atau tidak. Tidak usah sejahtera minimal cukuplah.

Dan syukurnya saya bisa membayar sisa biaya pelatihan tersebut,lalu ujazah saya bisa kembali. Memang bukan penipuan tapi rasa kesal itu ada ketika bekerja tapi tidak dapat apa apa. Dan saya juga berdoa semoga buat kamu yang akan melamar jadi sekuriti semoga lebih baik.

Itu cerita pengalaman saya bekerja jadi satuan pengaman yang kurang menyenangkan dalam hal kesejahteraan. Kamu harus pandai memilih dan memilah jika akan masuk kerja lewat yayasan. Karena jika tidak hati-hati akan dirugikan. Perbanyak mencari informasi adalah salah satu untuk menghindarinya. Cari kerja tidak boleh buru-buru terlebih yang pakai uang.

Tinggalkan Balasan